Lompat ke konten
Konversi Kalender
angkita.com · Konversi Kalender Masehi ↔ Hijriah · dicetak

Konversi Kalender Masehi ↔ Hijriah

Satu tanggal masuk, tiga kalender keluar — Masehi, Hijriah (hisab Umm al-Qura), dan weton Jawa — lengkap dengan rincian langkah dan catatan rukyat.

Kalender Umm al-QuraDitinjau 20 Sep 2026

Cara kerja konversi kalender

Satu tanggal dimasukkan, tiga penanggalan keluar sekaligus: Masehi, Hijriah, dan weton Jawa. Ketiganya dihitung dari tanggal yang sama, jadi tidak ada risiko salah menyalin antar tabel.

Masehi adalah kalender sipil yang dipakai sehari-hari di Indonesia (kalender Gregorian), berbasis peredaran Matahari dengan panjang bulan 28–31 hari. Hijriah adalah kalender berbasis peredaran Bulan dengan panjang bulan 29 atau 30 hari, sehingga tahunnya sekitar 11 hari lebih pendek daripada tahun Masehi. Weton Jawa bukan kalender penuh, melainkan penanda hari: gabungan nama hari dan pasaran dalam siklus lima hari.

Hijriah: hisab Umm al-Qura, bukan hasil rukyat

Alat ini mengubah tanggal Masehi ke Hijriah memakai kalender Umm al-Qura — tabel kalender Hijriah resmi yang sudah tertanam di peramban melalui pustaka ICU, sehingga tidak perlu mengunduh data apa pun. Arah sebaliknya, dari Hijriah ke Masehi, dihitung dengan pencarian biner ke tabel yang sama, karena panjang bulan pada tabel itu tidak mengikuti pola tetap (29 atau 30 hari mengikuti data resmi, bukan rumus sederhana).

Penting dibedakan: Umm al-Qura adalah hasil hisab (perhitungan astronomis), sedangkan penetapan awal bulan di Indonesia memakai rukyatul hilal dengan kriteria Imkanur Rukyat MABIMS — tinggi hilal minimal 3 derajat dan elongasi minimal 6,4 derajat, hasil kesepakatan Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura pada 8 Desember 2021. Dua pendekatan ini bisa menghasilkan tanggal yang berbeda satu hari pada bulan tertentu.

Weton Jawa: hari, pasaran, dan neptu

Weton dihitung murni secara aritmetika dari satu titik jangkar yang terverifikasi: 17 Agustus 1945 adalah Jumat Legi. Dari titik itu, pasaran bergeser satu langkah setiap hari mengikuti siklus Legi → Pahing → Pon → Wage → Kliwon, dan hari bergeser mengikuti siklus tujuh hari biasa. Karena kedua siklus ini tidak pernah berubah, weton tanggal apa pun bisa dihitung pasti tanpa tabel hari per hari.

Neptu adalah penjumlahan nilai hari dan nilai pasaran. Nilai hari: Minggu 5, Senin 4, Selasa 3, Rabu 7, Kamis 8, Jumat 6, Sabtu 9. Nilai pasaran: Legi 5, Pahing 9, Pon 7, Wage 4, Kliwon 8. Jadi Jumat Legi bernilai 6 + 5 = 11, dan Sabtu Wage bernilai 9 + 4 = 13.

Perlu dicatat: alat ini bukan kalender Jawa Sultan Agung lengkap. Nama bulan Jawa (Sura, Sapar, Mulud, dan seterusnya) serta tahun Jawa (Alip, Ehe, Jimawal, dan seterusnya) memakai aturan tersendiri dan tidak ditampilkan di sini.

Cara memakai kalkulator ini

  1. Pilih kalender masukan: Masehi atau Hijriah.
  2. Isi tanggalnya. Untuk Masehi, tombol Hari ini mengisi tanggal hari ini secara otomatis; untuk Hijriah, isi hari, bulan, dan tahun Hijriah.
  3. Baca hasilnya: weton beserta neptu di kartu utama, lalu baris tanggal Masehi dan Hijriah padanannya.
  4. Buka Rincian langkah untuk melihat tiap baris perhitungan, atau pakai tombol Salin, Bagikan, dan Cetak.

Contoh perhitungan

Contoh 1 — 17 Agustus 1945. Masukkan tanggal Masehi 17 Agustus 1945. Hasilnya: 9 Ramadan 1364 H, weton Jumat Legi dengan neptu 11. Tanggal bersejarah ini dipakai sebagai jangkar perhitungan weton karena wetonnya terdokumentasi luas.

Contoh 2 — arah sebaliknya. Pilih mode Hijriah, lalu masukkan 9 Ramadan 1364 H. Hasilnya kembali ke Jumat, 17 Agustus 1945 — sama persis dengan contoh pertama, karena kedua arah memakai tabel Umm al-Qura yang sama.

Contoh 3 — 19 September 2026. Tanggal Masehi ini berpadanan dengan 8 Rabiul Akhir 1448 H menurut hisab Umm al-Qura, dan wetonnya Sabtu Wage dengan neptu 13. Beberapa kalender lain bisa menulis 7 Rabiul Akhir 1448 H untuk tanggal yang sama; selisih satu hari seperti ini wajar dan sudah diperingatkan di kartu hasil.

Kenapa tanggal Hijriah bisa berbeda satu hari

Kalender Hijriah di Indonesia tidak diterbitkan oleh satu lembaga tunggal. Muhammadiyah memakai kriteria hisab wujudul hilal, Nahdlatul Ulama dan pemerintah memakai imkanur rukyat, sementara kalender internasional seperti Umm al-Qura memakai tabel hisab tersendiri. Perbedaan kecil pada ambang visibilitas hilal — misalnya tinggi hilal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat — bisa menggeser awal bulan satu hari.

Karena itu, hasil di alat ini sebaiknya dibaca sebagai perkiraan hisab yang konsisten, bukan keputusan resmi. Untuk keperluan ibadah dan hari libur nasional, keputusan sidang isbat Kementerian Agama dan SKB 3 Menteri tetap menjadi acuan. Kalau kamu ingin menghitung mundur hari kerja di sekitar hari raya, gunakan Hitung Hari Kerja yang sudah memuat daftar libur nasional resmi.

Kegunaan sehari-hari

  • Mencari weton untuk acara adat. Banyak perhitungan pernikahan, pindah rumah, atau selamatan membutuhkan weton dan neptu kedua calon. Alat ini menghitungnya dalam sekali isi.
  • Mengetahui tanggal lahir Hijriah. Akta dan dokumen resmi mencatat tanggal Masehi, tetapi sebagian keluarga ingin tahu tanggal Hijriahnya untuk keperluan doa bersama atau penanggalan pribadi.
  • Menelusuri dokumen dan arsip lama. Naskah, prasasti, dan surat lama sering bertanggal Hijriah; alat ini membantu menemukan padanan Masehinya tanpa tabel cetak.
  • Memperkirakan jadwal ibadah sunnah. Puasa Ayyamul Bidh (13, 14, 15 setiap bulan Hijriah) atau puasa Arafah bisa diperkirakan dari tanggal Hijriah, dengan catatan tetap mengikuti penetapan resmi.
  • Melengkapi keterangan tanggal di undangan atau ucapan. Sebagian orang senang mencantumkan tanggal Masehi dan Hijriah sekaligus; hasil dari sini bisa langsung disalin.

Yang perlu diperhatikan

Perhitungan tanggal di alat ini berbasis UTC, sehingga hasilnya sama dari zona waktu mana pun. Weton juga konsisten untuk tanggal sipil yang sama. Yang tidak bisa dijamin presisi adalah awal bulan Hijriah secara resmi, karena bergantung pada metode penetapan yang berbeda-beda. Selalu cantumkan sumber saat memakai hasilnya untuk keperluan serius, dan bila kamu membutuhkan kalender Jawa lengkap dengan nama bulan dan tahun Jawa, gunakan kalender yang memang menyediakannya.

Pertanyaan umum

Kenapa tanggal Hijriah hasil kalkulator ini bisa berbeda satu hari dengan kalender lain?

Karena kalender Hijriah tidak tunggal. Alat ini memakai hisab kalender Umm al-Qura (tabel resmi Arab Saudi yang tertanam di peramban lewat pustaka ICU), sedangkan kalender lain bisa memakai metode hisab yang berbeda atau hasil rukyatul hilal. Kriteria Imkanur Rukyat MABIMS yang dipakai pemerintah Indonesia — tinggi hilal minimal 3° dan elongasi minimal 6,4° — juga bisa menghasilkan awal bulan yang bergeser satu hari. Untuk Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah, selalu ikuti penetapan resmi sidang isbat Kementerian Agama.

Apa itu weton dan neptu?

Weton adalah gabungan hari Masehi (Senin sampai Minggu) dengan pasaran dalam siklus lima hari Jawa (Legi, Pahing, Pon, Wage, Kliwon). Orang yang lahir pada Sabtu Wage, misalnya, punya weton "Sabtu Wage". Neptu adalah angka yang dijumlahkan dari nilai hari dan nilai pasaran weton tersebut — dipakai dalam berbagai perhitungan primbon Jawa. Contohnya Jumat (6) Legi (5) bernilai neptu 11.

Apakah alat ini menampilkan kalender Jawa Sultan Agung yang lengkap?

Tidak. Alat ini hanya menampilkan weton, yaitu hari dan pasaran, karena keduanya murni aritmetika siklus yang bisa dihitung pasti. Kalender Jawa Sultan Agung yang lengkap — nama bulan seperti Sura, Sapar, Mulud; tahun seperti Alip, Ehe, Jimawal; serta tahun windu — memakai aturan tersendiri dan sengaja belum ditampilkan. Jangan memakai hasil di sini sebagai pengganti kalender Jawa lengkap untuk keperluan adat yang membutuhkan bulan dan tahun Jawa.

Bisakah saya memakai hasilnya untuk menentukan jadwal puasa sunnah atau perayaan?

Hasil hisab bisa dipakai sebagai perkiraan awal, misalnya untuk memperkirakan tanggal Ayyamul Bidh atau puasa Arafah. Namun untuk ibadah yang waktunya ditetapkan resmi — awal Ramadhan, Idulfitri, dan Iduladha — keputusan pemerintah lewat sidang isbat tetap yang berlaku, dan bisa berbeda satu hari dari hasil hisab di alat ini. Untuk acara adat yang memakai weton, cocokkan dulu dengan perhitungan sesepuh atau primbon yang kamu percayai.

Dasar hukum:Kriteria Imkanur Rukyat MABIMS — tinggi hilal minimal 3° dan elongasi minimal 6,4° (kesepakatan Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, Singapura, 8 Desember 2021)Kalender Umm al-Qura — tabel kalender Hijriah yang dipakai pustaka ICU/Intl pada perambanDitinjau oleh Pengelola Angkita · 20 Sep 2026