Apa itu PPh 21 gross-up?
Gross-up adalah metode pemotongan pajak di mana perusahaan memberi tunjangan pajak kepada pegawai sebesar PPh 21 yang harus dibayar, sehingga gaji bersih (take-home pay) pegawai sama persis dengan gaji yang dijanjikan di kontrak kerja — pegawai tidak merasakan potongan pajak sama sekali dari sisi nominal yang diterima.
Yang membuat perhitungannya tidak sesederhana kelihatannya: tunjangan pajak itu sendiri adalah penghasilan, sehingga ikut dikenakan PPh 21 juga. Menambah tunjangan bisa mendorong penghasilan bruto ke lapisan tarif TER yang lebih tinggi, yang berarti tunjangannya harus disesuaikan lagi supaya tetap menutup pajak di lapisan yang baru. Kalkulator ini secara otomatis mencari titik konsisten: lapisan tarif yang dipakai untuk menghitung tunjangan adalah lapisan yang SAMA dengan lapisan yang berlaku setelah tunjangan itu ditambahkan.
Cara memakai kalkulator ini
- Isi gaji bruto sebelum tunjangan pajak (gaji pokok + tunjangan tetap, TANPA tunjangan pajak).
- Pilih status PTKP untuk menentukan kategori TER.
- Baca hasilnya: besar tunjangan pajak yang harus diberikan, gaji bruto setelah ditambah tunjangan, dan PPh 21 yang harus disetor — keduanya (tunjangan dan pajak) akan hampir sama persis, selisih maksimal Rp 1 karena pembulatan.
Contoh perhitungan
Bayu punya gaji bruto Rp 8.500.000 (belum termasuk tunjangan pajak), status TK/0 (kategori TER A). Perusahaannya memakai skema gross-up.
Tanpa tunjangan, gaji Rp 8.500.000 masuk lapisan TER A 1,5%. Setelah dicoba menambahkan tunjangan, ternyata gabungannya (sekitar Rp 8.651.400) tetap berada di lapisan yang sama — konsisten. Hasilnya:
- Tunjangan pajak: Rp 151.400
- Gaji bruto + tunjangan: Rp 8.651.400
- PPh 21 yang disetor: Rp 151.399 (1,75% dari Rp 8.651.400, dibulatkan ke bawah)
Selisih Rp 1 antara tunjangan dan pajak adalah akibat pembulatan pajak ke rupiah penuh ke bawah — bukan kesalahan hitung. Gaji bersih yang diterima Bayu tetap Rp 8.500.000, persis seperti yang disepakati, karena tunjangan Rp 151.400 menutupi hampir seluruh PPh 21 Rp 151.399 miliknya.
Kenapa perlu mencari “lapisan yang konsisten”?
Bayangkan bila kalkulator hanya menghitung tunjangan dari lapisan tarif gaji AWAL (1,5%) tanpa mengecek ulang: tunjangannya akan under-estimate bila ternyata gabungan gaji+tunjangan naik ke lapisan yang lebih tinggi. Sebaliknya, kalau ternyata gabungannya masih di lapisan yang sama, iterasi buta yang naik-turun tanpa arah bisa berosilasi di sekitar batas lapisan tanpa pernah stabil. Kalkulator ini menghindari kedua masalah itu dengan mencari langsung lapisan mana yang hasilnya konsisten, dimulai dari lapisan gaji tanpa tunjangan dan naik bertahap bila perlu.
Biaya total bagi perusahaan
Tunjangan pajak menambah biaya total yang dikeluarkan perusahaan untuk mempekerjakanmu (cost-to-company), di luar gaji pokok, tunjangan lain, dan iuran BPJS bagian pemberi kerja. Untuk melihat rincian biaya total perusahaan secara lengkap, termasuk BPJS Kesehatan, JHT, JP, JKK, dan JKM, pakai Kalkulator Gaji Bersih dan aktifkan opsi gross-up di sana.
Tiga skema, tiga angka yang berbeda
Untuk gaji bruto yang sama, ketiga skema pemotongan pajak menghasilkan tiga angka gaji bersih yang berbeda:
- Gross: gaji bersih = gaji bruto − PPh 21. Pegawai menanggung penuh pajaknya, gaji bersih paling kecil dari ketiga skema.
- Net: gaji bersih = gaji bruto (persis sama), perusahaan menanggung PPh 21 sebagai biaya tambahan di luar slip gaji.
- Gross-up: gaji bersih = gaji bruto (sama seperti net), tapi tunjangan pajaknya tercatat resmi sebagai komponen penghasilan di slip gaji dan ikut dilaporkan sebagai objek pajak — bedanya dengan net hanya soal pencatatan administratif, hasil akhir ke kantong pegawai sama.
Sebelum menandatangani kontrak kerja, tanyakan skema mana yang dipakai perusahaan — perbedaan istilah “gaji Rp 8,5 juta” bisa berarti angka bersih yang kamu terima berbeda cukup jauh tergantung skemanya. Skema gross-up paling umum dipakai untuk posisi manajerial ke atas atau perusahaan yang ingin menyederhanakan negosiasi gaji tanpa membuat pegawai pusing menghitung potongan pajaknya sendiri setiap bulan.
Pertanyaan umum
Apa bedanya gross, net, dan gross-up?
Skema gross: gaji yang disepakati sudah termasuk pajak, jadi PPh 21 memotong langsung dari situ dan gaji bersih berkurang. Skema net: perusahaan menanggung penuh PPh 21 sebagai biaya tambahan, gaji bersih pegawai sama persis dengan gaji yang disepakati. Skema gross-up: perusahaan memberi TUNJANGAN PAJAK sebesar PPh 21 yang harus dibayar, sehingga gaji bersih pegawai tetap utuh — tapi secara akuntansi tunjangan itu juga kena pajak, sehingga perlu dihitung berulang sampai konsisten (lihat bagian berikut).
Kenapa tunjangan pajak tidak bisa dihitung langsung sekali kali saja?
Karena tunjangan pajak itu sendiri adalah penghasilan tambahan yang ikut menambah bruto, sehingga ikut kena pajak juga. Menambahkan tunjangan bisa mendorong bruto ke lapisan TER yang lebih tinggi, yang berarti tunjangannya perlu disesuaikan lagi. Kalkulator ini mencari titik di mana tunjangan pajak dan lapisan TER-nya sudah konsisten satu sama lain, bukan menghitung satu kali lalu berhenti.
Apakah tunjangan pajak selalu menutup PPh 21 sepenuhnya?
Ya, dengan selisih paling banyak Rp 1 akibat pembulatan ke rupiah penuh. Ini memastikan gaji bersih pegawai memang tidak berkurang oleh PPh 21, sesuai tujuan skema gross-up.
Siapa yang menanggung biaya tunjangan pajak ini?
Pemberi kerja. Tunjangan pajak menambah total biaya gaji yang dikeluarkan perusahaan (cost-to-company), di luar gaji pokok dan tunjangan lain. Untuk melihat total biaya perusahaan secara lengkap termasuk iuran BPJS, pakai Kalkulator Gaji Bersih.
